Beberapa hari silam, sepulang kerja, naik angkot kulihat seorang nenek naik. Karena dia tersenyum, aku juga membalas senyumannya.
Di tengah jalan, setelah sang sopir mengisi bensin, nenek ini menyerahkan uang. Dan alangkah kagetnya aku waktu dia cuma memberi Rp. 1.500 saja. Padahal sudah menjadi ketentuan bahwa angkot (bemo) "JAUH DEKAT RP. 2500,". Nenek ini dengan cepat berkata : "Aku biasa naik bemo, 1500 lho! Aku khan orang tua".
Sopir tadi dongkol dan mengeluh : "Jangan begitu nek..." (sambil tetap mengendarai bemonya). "Masa, tiap hari cuam 1500? "
Nenek itu juga ngotot : "Lha saya wong tua kok! Biasanya juga 1500???"
Lebih menyedihkan waktu sang nenek memojokkan sopir tadi : "Kamu, orang muda, GAK PERNAH AMAL? "
Aku sedih: Apa hubungannya ongkos bemo dengan amal? Apalagi dia memaksa orang? Apakah amal bisa dipaksakan?
"ANDA BUTUH WAKTU, KAMI PERLU UANG"
Tampilkan postingan dengan label pertengkaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertengkaran. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Januari 2010
Rabu, 13 Februari 2008
Pertengkaran di bis kota
Biasa, ada pertengkaran di bis kota waktu aku pulang kerja tadi. Di sekitar jalan Tunjungan, Surabaya. Ada penumpang yang memaki-maki sang sopir yang sedang bekerja, mengendarai bis supaya baik jalannya (kayak lagu nihc).
Sang sopir tidak mau berhenti di dekat eks toko SIOLA, sebab ada pak polisi. Si penumpang ngamuk, maki-maki sang sopir. Sang sopir ngotot balas memaki juga . Ribut deh.
Para penumpang tentunya RAME-RAME membela sang sopir dan melarang melanjutkan pertengkaran itu.
Ya, itulah kalau naik kendaraan umum, harus "tahu diri".
Sang sopir tidak mau berhenti di dekat eks toko SIOLA, sebab ada pak polisi. Si penumpang ngamuk, maki-maki sang sopir. Sang sopir ngotot balas memaki juga . Ribut deh.
Para penumpang tentunya RAME-RAME membela sang sopir dan melarang melanjutkan pertengkaran itu.
Ya, itulah kalau naik kendaraan umum, harus "tahu diri".
Label:
bis kota,
penumpang,
pertengkaran,
sopir
Langganan:
Postingan (Atom)