Malam ini, sepulang dari gereja, sekitar pkl. 21.00 aku naik angkot ke rumah. Waktu ada 4 penumpang laki2 (seperti dari luar pulau Jawa) naik. Aku merasa tidak enak, dan akhirnya kuputuskan turun dan ganti mirkolet lainnya.
Semula aku tidak curiga kepada mereka, tetapi poin2 ini yang membuatkan memutuskan turun dan menghindari mereka :
1. Mereka ber-4, berbicara seolah2 mau menuju ke Waru tetapi mengapa naik mikrolet ke Rungkut, (dan tanya apakah mikrolet ini lewat pasar Gedongan?). Logikanya, naik aja mikrolet yg 'lurus' langsung ke Waru.
2. Aku seperti biasa duduk di pojok kiri belakang, dekat jendela angkot. 2 orang duduk di sebelah kiriku, 2 orang di depanku. Orang yang di sebelah kiriku, sejak awal terus bergerak badanya (bhs. Jawa = umek / usrek) saja.
3. Orang di sebelahnya, tangannya sudah 'sampai' ke aku, dan seperti biasa, pura2 buka atau tutup jendela.
Akhirnya, dekat sebuah Plaza aku turun. Dan, naik angkot berikutnya. Di angkot ini, ada seorang ibu di depanku dan seorang wanita di samping sopir. Kuceritakan tentang alasanku mengapa pindah ke mikrolet mereka ini.
Dan, ternyata ibu tadi mengkonfirmasi bahwa dia tadi juga 'didekati' oleh 4 orang itu, diajaknya naik (dari RSAL depan ROYAL Plaza). Ibu ini sudah curiga, dan menolak. Dia mau naik mikrolet ini, yang dilihatnya kosong. Kemudian ibu ini menceritakan bagaimana dia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada TUHAN-nya beberapa waktu yg lalu, waktu dia melihat sekawanan copet seperti itu naik ,dan mencopet uang seorang kakek yang - - - baru saja mengambil uang pensiunnya... Ibu ini menyesal tidak bisa menolong, tetapi terus berdoa...
Waspadalah - waspadalah - - -
"ANDA BUTUH WAKTU, KAMI PERLU UANG"
Tampilkan postingan dengan label Pengalamanku naik angkot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalamanku naik angkot. Tampilkan semua postingan
Jumat, 06 Mei 2011
Rabu, 13 April 2011
Duduk di Ban
Ya, keramahan adalah hal yang mahal pada jaman ini. Itu diakui semua orang.
Pernah, aku naik angkot (aku tinggal di Sidoarjo dan harus ke kota Surabaya - Jawa Timur). Nah, menurut undang-undang yang tidak tertulis tapi disepakati bersama, isi bangku adalah 7 dan 4. Sebenarnya cuma 6 orang yg duduk di bangku itu. Namun waktu aku masuk mereka tidak mau bergeser atau memberi tempat duduk.
Aku malas 'memohon' dan akhirnya aku mengalah duduk di roda / ban yang ada di angkot itu.
Tapi tidak semua begitu. Aku dan istriku belajar sekian tahun untuk 'menyapa telebih dahulu' para tetangga kalau kami berangkat atau lewat depan rumah mereka. Sulit memang. Tapi setelah cukup lama, akhirnya mereka jadi sungkan (mungkin) dan balik menyapa kami lebih dahulu.
Intinya - kita sendiri yang harus memulai, tidak perlu menunggu orang lain. Dan, harus kita tularkan kebiasaan 'ramah' ini ke anak-anak kita, tetangga, dan orang-orang lainnya.
Sukses buat Anda!
(Komentarku di blog seseorang di BLOGDETIK).
Pernah, aku naik angkot (aku tinggal di Sidoarjo dan harus ke kota Surabaya - Jawa Timur). Nah, menurut undang-undang yang tidak tertulis tapi disepakati bersama, isi bangku adalah 7 dan 4. Sebenarnya cuma 6 orang yg duduk di bangku itu. Namun waktu aku masuk mereka tidak mau bergeser atau memberi tempat duduk.
Aku malas 'memohon' dan akhirnya aku mengalah duduk di roda / ban yang ada di angkot itu.
Tapi tidak semua begitu. Aku dan istriku belajar sekian tahun untuk 'menyapa telebih dahulu' para tetangga kalau kami berangkat atau lewat depan rumah mereka. Sulit memang. Tapi setelah cukup lama, akhirnya mereka jadi sungkan (mungkin) dan balik menyapa kami lebih dahulu.
Intinya - kita sendiri yang harus memulai, tidak perlu menunggu orang lain. Dan, harus kita tularkan kebiasaan 'ramah' ini ke anak-anak kita, tetangga, dan orang-orang lainnya.
Sukses buat Anda!
(Komentarku di blog seseorang di BLOGDETIK).
Langganan:
Postingan (Atom)